Articles by "kesehatan"
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Portal Berita Terkini


Pankreas merupakan salah satu organ penting yang berfungsi menghasilkan enzim dan juga hormon untuk membantu sistem pencernaan. Pankreas juga bisa terkena masalah kesehatan, seperti pankreatitis akut atau peradangan pada pankreas hingga kanker.
Sayangnya banyak orang tak merasakan apa-apa ketika pankreas bermasalah. Andrew Hendifar, MD dari Cedars-Sinai Medical Center di Los Angeles mengatakan, tingkat harapan hidup pasien kanker pankreas pun sangat rendah karena umumnya ditemukan pada tahap lanjut.
Ted Epperly dari Family Medicine Residency menyebutkan, masalah kesehatan pankreas lainnya yang bukan kanker pun jarang terdeteksi dini.
Menurut Andrew dan Ted, sebenarnya ada beberapa tanda ketika pankreas mulai mengalami gangguan. Namun, gejala yang muncul sering kali diabaikan karena dianggap masalah biasa. Berikut 5 tanda pankreas bermasalah, seperti dikutip dari Prevention.com.
1. Tinja berwarna terang dan lebih cair
Jika tinja atau kotoran berwarna terang dan lebih cair, itu tanda buruknya penyerapan gizi. Hal ini tentu berkaitan dengan pankreas.

Pankreas menghasilkan enzim yang membantu seseorang mencerna lemak. Pankreas juga membantu tubuh menyerap vitamin yang larut dalam lemak seperti A, E, dan K.
Ketika pankreas yang memroduksi enzim itu terganggu, kotoran pun akan terlihat pucat dan lebih cair. Bahkan terkadang kotoran akan sedikit berminyak. "Itu adalah lemak dari makanan yang gagal dipecah," kata Andrew
2. Nyeri perut
Nyeri perut adalah salah satu gejala paling umum dari kanker pankreas dan pankreatitis aku. Rasa sakit bisa menjalar hingga ke punggung bagian bawah dan juga menetap selama berminggu-minggu. Itu merupakan gejala kanker pankreas.
Sementara itu, jika rasa sakit datang tiba-tiba dan hanya terpusat di bagian tengah perut, bisa jadi tanda pankreatitis akut.
Ted mengatakan, sakit perut memang masalah umum bagi banyak orang sehingga sulit untuk memastikan apakah ada masalah kesehatan serius dari sakit perut. Akan tetapi, jika terasa sangat nyeri dan sering berlangsung, periksalah ke dokter.
3. Gula darah tinggi
Gula darah tinggi jelas menjadi tanda pankreas bermasalah. Pankreas menghasilkan insulin yang membantu penyerapan gula dalam darah ke sel-sel di tubuh.

Ketika pankreas mengalami gangguan, produksi insulin bermasalah sehingga bisa membuat gula dalam darah menjadi tinggi. Hingga akhirnya, pasien pun terkena diabetes melitus atau kencing manis.
4. Mual
Mual dan muntah merupakan tanda-tanda yang harus diwaspadai. Terutama jika terjadi setelah makan makanan berlemak.

Andrew menjelaskan, pankreas menghasilkan enzim yang membantu memecah lemak dalam sistem pencernaan. Ketika lemak tak berhasil dipecah, akhirnya bisa memicu rasa mual. Sering kali terjadi setelah makan hamburger, pizza, alpukan dan makanan tinggi lemak lainnya.
5. Penurunan berat badan
Waspadai penurunan berat badan padahal Anda tidak sedang menjalankan diet ketat. Penurunan berat badan secara tiba-tiba bisa menjadi tanda banyak penyakit.

Akan tetapi, jika disertai rasa nyeri di perut, hingga muntah dan mual, bisa jadi disebabkan oleh terganggunya fungsi pankreas.
Portal Berita Terkini

Sampai hari ini memang belum ada obat atau vaksin untuk HIV/AIDS, penyakit yang diderita sekitar 37 juta orang di dunia. Tapi, ada alasan untuk berharap karena riset-riset yang dilakukan semakin menjanjikan.


Kemajuan pengobatan dan pencegahan infeksi HIV memang terus meningkat. Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia, di tahun 2015 angka kematian karena penyakit ini jauh lebih rendah dalam 20 tahun terakhir. Angka penularan HIV baru juga mencapai titik terendah sejak tahun 1991.



Kemajuan terapi HIV/AIDS itu paling tidak karena akses terhadap pengobatan antiretroviral (ARV) semakin luas. Pada tahun 2015, setidaknya 2 juta orang mengonsumsi ARV, angka tertinggi dalam sejarah penyakit ini.



Pada peringatan Hari AIDS 2016 ini, perbaharui pengetahuan Anda akan penemuan yang signifikan, termasuk pengobatan dan vaksin yang sedang dikembangkan untuk mengatasi HIV/AIDS, seperti dikutip dari Huffingtonpost.com.



1. Vaksin HIV
Virus HIV tidak mungkin dikalahkan oleh sistem kekebalan tubuh manusia karena ia memiliki kemampuan bermutasi dengan cepat untuk mengubah permukaan protein sehingga tidak terdeteksi.
Dalam penemuan terbaru, antibodi atau protein yang diproduksi oleh sistem imun tubuh untuk menghancurkan patogen, mampu menetralisir berbagai varian dari strain HIV.



Sebelumnya, antibodi paling kuat yang diidentifikasi cuma mampu menetralisir 90 persen dari varian HIV. Sementara dalam riset terbaru, N6, nama antibodi itu, bisa menetralisir sampai 98 persen. Tim ilmuwan dari National Institute of Health berhasil mengisolasi antibodi N6 dari darah seseorang yang terinfeksi HIV.



Dari antibodi itu, para ilmuwan akan mengembangkannya menjadi vaksin untuk mencegah penularan HIV.



Kelompok ilmuwan lain yang mengembangkan vaksin HIV bahkan sudah sampai pada tahap uji coba pada manusia. Dalam waktu dekat, vaksin tersebut akan diuji coba pada populasi di Afrika Selatan yang memiliki angka penularan HIV tinggi di dunia.



2. Pengobatan yang sukses pada monyet
Sebuah eksperimen vakin yang dikombinasikan dengan zat yang bisa merangsang sistem imun mampu menekan SIV (versi HIV pada monyet) sampai pada level tak terdeteksi, seperti halnya pengobatan ARV pada manusia.



Penemuan yang menggembirakan itu ditemukan pada 3 dari 9 ekor monyet yang mendapatkan terapi kombinasi. Walau begitu, para ahli tetap merasa hasil itu menjanjikan untuk pengembangan obat HIV di masa depan.



Kelak, jika obat itu berhasil diwujudkan, seseorang bisa mendapatkan terapi yang sama dan kadar virus dalam tubuhnya dapat ditekan sampai tidak terdeteksi, tanpa harus mengonsumsi ARV setiap hari.



3. Obat yang sudah ada bisa menekan HIV
Dalam percobaan yang lain, masih kepada monyet, para ilmuwan dari Inggris berhasil menekan SIV sampai level tak terdeteksi dengan suplemen terapi ARV dengan antibodi yang mirip dengan obat vedolizumab yang sudah lebih dulu ada untuk penyakit lain.



Secara umum, level HIV naik lagi dalam seminggu setelah pengobatan dihentikan, namun dari 8 monyet yang mendapatkan uji coba ini, kadar virus tetap tak terdeteksi sampai 2 tahun.



Kabar baiknya, obat antibodi vedolizumab itu sudah lama beredar dan biasanya diresepkan untuk mengobati penyakit pencernaan. Vedolizumab bekerja dengan mencegah sel imun tubuh memasuki usus, bagian tubuh yang paling rentan mengalami kerusakan saat tahap awal infeksi HIV.



Berdasarkan hasil tersebut, para peneliti mulai melakukan pengujian vedolizumab pada manusia.
Portal Berita Terkini

Kehadiran gawai sering membuat anak lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Anak pun menjadi jarang terpapar sinar matahari.
Menurut penelitian dari London School of Hygiene and Tropical Medicine, jarang terpapar sinar ultraviolet B dari matahari bisa meningkatkan risiko anak mengalami miopia.
Miopia atau rabun jauh pada anak-anak biasanya dipengaruhi faktor genetik dan lingkungan. Jika anak lebih sering terkena sinar ultraviolet B, risiko mengalami miopia pun menurun.
Penelitian sebelumnya terhadap orang dewasa juga menemukan kaitan antara miopia dan ultraviolet B. Penelitian yang dipimpin oleh Dr Astrid E Fletcher dari London School of Hygiene and Tropical Medicine itu telah melakukan pemeriksaan mata terhadap 4166 orang.
Penelitian menunjukkan, paparan sinar UVB pada usia 14-19 tahun dan 20-39 tahun dapat menurunkan risiko miopia. Penelitian tersebut menyimpulkan, yang dapat merusak mata anak-anak ternyata bukan hanya karena sering menatap layar gawai, tapi kuramg terpapar sinar matahari.
Peneliti menyarankan orangtua agar tak membiarkan anak terus-menerus di dalam rumah. Biarkan anak bermain di luar rumah, seperti bermain di taman bersama teman-temannya atau bersepeda. Bermain di luar ruangan pun baik untuk tumbuh kembang anak.
Terkena sinar matahari, khususnya pada pagi hari, tak hanya dapat menyehatkan mata. Sinar matahari membantu penyerapan vitamin D yang juga dibutuhkan untuk pertumbuhan anak-anak.
Menurut peneliti, terpapar sinar matahari pada masa kanak-kanak baik untuk kesehatan di masa mendatang. 
Portal Berita Terkini

Saya menulis ini tepat di hari peringatan AIDS sedunia beberapa hari lalu, kembali merenung selepas menunaikan program televisi yang juga membahas soal penyakit mematikan tersebut.
Stigma yang selama ini tertanam bahwa biang keladinya adalah perilaku seksual menyimpang (baca: dengan sesama jenis atau pekerja seks komersial adalah sumbernya) ternyata terhapus sama sekali dengan data statistik Kementrian Kesehata yang jelas-jelas menyebut kasus tertinggi ada pada ibu rumah tangga.
Latar belakang pekerjaan sebagai karyawan menempati angka 9603 kasus, sementara pekerja seks komersial malah kurang dari sepertiganya, 2578 kasus.
Selang sehari sebelum ini, saya juga terhenyak membaca berita seorang remaja putri di bawah umur pukul setengah satu subuh dengan alasan ‘pulang dari main’ menumpang angkot dan akhirnya diperkosa beramai-ramai oleh supir angkot dengan beberapa orang temannya yang juga usianya tidak lebih dari 21 tahun.
Ketika pemerkosa berhasil ditangkap, jangankan merasa bersalah, malah berbalik menantang polisi,”Kok seperti ini saja dipermasalahkan?” Kengerian semakin terasa melihat semua fenomena tersebut di negeri yang ‘sedang terserang banyak penyakit’ ini.
Cobalah menonton film-film kriminal buatan Amerika di mana seks sudah dianggap sebagai hal biasa. Pelaku yang terlibat kasus seks dengan anak di bawah umur, kelihatan ketakutan luar biasa dan alibi ‘hubungan atas dasar suka sama suka’ tidak pernah dibenarkan pengadilan.
Bahkan seseorang mendapat tudingan “You are sick!” begitu kedapatkan melakukan perbuatan asusila terhadap seorang remaja.


"Rekreasi" yang merusak diri

Penyakit dimulai saat istilah rekreasi diterapkan di area yang keliru. Pemenuhan dorongan yang tidak didasari perilaku sehat yang santun. Bukan hanya soal seks. Dorongan nafsu makan pun sama saja.
Pelampiasan rasa “ingin”, bahkan ketika berbagai jenis emosi datang mulai dari senang, sedih, frustrasi – yang ditujukan pada makanan, berujung penyakit yang diam-diam datang tanpa permisi.
Betul, salah makan hari ini tidak langsung berakibat gemuk esok hari kok. Tapi, bukan tak mungkin jika nantinya diabetes atau pelbagai sindroma metabolik muncul. Padahal, tujuan sebenarnya orang makan hanyalah sekadar bertahan hidup.
Begitu pula jika tindakan seksual yang tujuan aslinya meneruskan keturunan, bablas menjadi sekadar pemuasan rekreasi.
Rekreasi cenderung dilampiaskan pada orang yang salah, di waktu yang salah, di tempat yang salah pula.
Kesantunan tidak mendapat tempat lagi. Bahkan bagi segolongan anak muda sekarang, tetap perawan dan perjaka sebelum menikah dianggap hal yang menggelikan. Bukan sekadar ‘kuper’, tapi amat sangat purba.
Yang ditakuti hanya kehamilan yang tak diinginkan. Kebetulan kondom muncul sebagai perangkat penyelamat. Apalagi, dibilang juga mampu mencegah penularan HIV. Promosi yang salah sasaran akhirnya menciptakan masyarakat gagal paham.
Kondom dibenarkan untuk mencegah penularan penyakit terhadap pasangan seksual, dalam artian seorang istri yang mengidap HIV akibat cemaran transfusi darah tetap masih bisa mempertahankan perkawinan dan kehidupan seksualnya tanpa menulari suaminya. Bukan pacar gelapnya.
Saya masih cukup optimis untuk mempertahankan kesantunan hidup sehat di tanah air ini. Selama para pengambil peran kesehatan mempunyai misi yang sama.
Fakta bahwa ibu rumah tangga menempati peringkat teratas penderita HIV – bukan pecandu narkotik, apalagi pekerja seks komersial – sudah saatnya menjadi tamparan keras tentang makna hidup menikah.
Tidak ada sekolah menjadi orangtua memang. Dan tidak ada buku panduan menikah dengan kesetiaan dan komitmen. Tapi, yang mencemaskan adalah saat orang menikah ternyata hanya desakan usia, nafsu seks yang ingin segera disalurkan, bukannya tentang pernikahan itu sendiri.
Sama seperti makanan yang mudah membuat bosan, seks jika hanya dinikmati sebagai rekreasi akan menjadi suatu kejenuhan.
Kabar baiknya dengan makanan, berpindah ke variasi lain tidak akan menyebabkan kegaduhan. Tapi tidak demikian dengan perilaku seksual.
“Mencicipi” pemberi kenikmatan lain semata ingin lepas dari kejenuhan, bisa jadi cikal bakal mengapa latar belakang pekerjaan “baik-baik” sebagai karyawan menempati angka tertinggi.
Memilih serong dengan sesama profesi, berselingkuh dengan orang yang tiap hari ditemui di kantor, bukan jaminan ‘saya memilih partner seks yang aman’.
Aman tidak bisa dilihat secara kasat mata, karena virus HIV bisa bercokol hingga 10 tahun tanpa memberi gejala apa pun. Tapi jangan tanya ganasnya.
Bila kehamilan belum tentu bisa terjadi pada hubungan seks satu kali, maka penularan HIV pasti terjadi di hubungan yang ‘hanya sekali itu saja’ – dari orang yang ‘kelihatan sehat’, tapi Anda salah terka itu.
Sudah cukup kegaduhan demi kegaduhan menghalangi bangsa ini untuk maju. Banyak sekali hal yang semestinya tak perlu terjadi. Asal saja kita semua menata diri. Tepatnya tahu diri.
Kembali ke fitrah tidak hanya dijadikan ungkapan klise dan jargon. Tapi perlu ada contoh nyata walaupun kecil, untuk memulainya, dan menjadi panutan anak-anak nanti.
Rekreasi pangan tidak perlu meniru resep pizza terbaru, cukup mengganti menu pecel dengan karedok.
Rekreasi hubungan seks yang membosankan tidak perlu mengganti pasangan main, cukup mengganti kaos tidur yang sudah berlubang itu dengan satin berenda. Semoga kewarasan dan kesantunan kita masih dalam pemeliharaanNya.
Portal Berita Terkini

Keluarga yang memiliki kebiasaan makan sambil menyaksikan televisi, cenderung mengonsumsi makanan kurang sehat, ketimbang keluarga yang makan tanpa ditemani televisi.
Menurut sebuah studi di AS yang belum lama diterbitkan dalam jurnal Appetite, makan bersama keluarga bisa menjadi pelindung bagi kesehatan anak-anak.
Pemimpin studi Amanda Trofholz menjelaskan, orangtua sebaiknya menyediakan waktu setidaknya 1 kali dalam sehari, seperti pada saat makan malam, untuk makan bersama anak-anak, sebab ini bisa menjadi kesempatan untuk mengajarkan anak-anak tentang pilihan makanan sehat.
"Menyaksikan tayangan televisi pada saat makan bersama keluarga dapat mengurangi koneksi emosional antar anggota keluarga dan menumpulkan efek protektif dari makanan," kata Trofholz, yang juga seorang peneliti dari University of Minnesota, Minneapolis.
Untuk mengeksplorasi lebih dalam tentang hubungan antara menonton televisi saat makan bersama keluarga dan risiko obesitas, tim peneliti menganalisis rekaman video dari 120 keluarga yang memiliki anak berusia 6 sampai 12 tahun.
Setiap keluarga diminta untuk mencatat dua jenis makanan keluarga menggunakan iPad dan lalu melapor kepada tim peneliti apa yang mereka makan dan berapa banyak mereka menikmati makanan itu.
Setiap proses makan bersama keluarga pun direkam, untuk melihat apakah saat makan, keluarga tersebut menonton televisi.
Peneliti menemukan, keluarga yang makan tanpa menonton televisi lebih menikmati makanan mereka, ketimbang keluarga yang memerhatikan tayangan televisi.
Peneliti menjelaskan, saat tidak ada gangguan dari televisi, keluarga dapat lebih menikmati makanan, sehingga cepat merasa puas dengan makanan tersebut.
Obrolan sesama anggota keluarga juga membuat sesi makan menjadi lebih menyenangkan, ini membuat keluarga lebih sehat secara mental dan terhindar dari makan emosional—kecenderungan makan berlebih karena kondisi stres atau karena terdistraksi. Sehingga, keluarga yang tidak menonton televisi saat makan secara signifikan lebih sehat.
"Menyaksikan televisi pada saat makan adalah gangguan yang dapat menyebabkan seseorang 'makan tanpa berpikir' termasuk makan berlebihan tanpa menyadarinya," kata Eileen Fitzpatrick, seorang asisten profesor di The Sage Colleges di Troy , New York, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.
Lingkungan makan tanpa televisi adalah kesempatan bagi anak-anak untuk menikmati makan, mencoba makanan baru, dan mengatur diri untuk menikmati makanan sehat yang disediakan.
Tak mengherankan, kata peneliti, anak-anak dari keluarga yang menonton televisi saat makan lebih mungkin untuk kelebihan berat badan atau obesitas dibandingkan anak-anak yang keluarganya tidak menonton TV saat makan.
Fitzpatrick menambahkan, iklan makanan tak sehat di televisi juga dapat membentuk pola makan anak, anak cenderung memilih makanan kurang sehat karena pengaruh iklan.
“Keluarga harus mencoba untuk melihat momen makan bersama keluarga sebagai sebuah kebutuhan untuk sehat,” kata Trofholz.
"Keluarga yang menjadikan makan bersama keluarga sebagai waktu untuk menjalin hubungan emosional lebih cenderung untuk mematikan televisi, menyajikan makanan dengan kualitas yang lebih tinggi, dan lebih menikmati makanan."
Portal Berita Terkini
Banyak orang tak sadar bahwa perlindungan pertama pada kesehatan gigi dimulai dari saat memilih santapan. Karena itulah, diet berupa pengaturan pola makan sehat sebenarnya juga perlu dilakukan dengan tujuan gigi tetap kuat.‎

Pasalnya, beragam makanan yang dikonsumsi sehari-hari mengandung zat-zat perusak gigi. Paparan asam pada minuman ringan dan kudapan, misalnya, dapat menimbulkan plak penyebab gigi berlubang.

diet demi menjaga kesehatan gigi dapat dimulai semudah menambah konsumsi serat nabati pada piring santap. Saat dikunyah, buah dan sayur punya kemampuan membersihkan plak gigi secara alami.

"Kebiasaan makan makanan manis dan lengket juga harus dikurangi," kata drg. Ratu Mirah Afifah, Profesional Marketing Manager Oral Care PT Unilever Indonesia, dikutip dari Kompas.com (13/9/13).

Karena teksturnya cenderung renyah, makanan berserat tinggi membantu tubuh memproduksi lebih banyak air liur. Hal ini berguna untuk menetralisir asam. Air liur mengandung kalsium dan fosfat untuk memperbaiki kerusakan awal jaringan gigi.

Itulah sebabnya mengunyah makanan berserat sebaiknya dilakukan secara bergantian di kedua sisi mulut. Pengunyahan ini akan lebih efektif dan membuat bagian kanan serta kiri gigi bersih seimbang.

Selain buah dan sayur, frekuensi makan pun hendaknya diatur. Setelah mengonsumsi makanan utama, ada baiknya jika tidak langsung mengudap.

Masalahnya, sisa makanan akan mengeluarkan asam yang menyerang gigi. Serangan itu tidak akan berhenti jika kudapan terus dikunyah. Akibatnya, gigi bisa gampang berlubang.

Begitu pula dengan mengunyah melewati batas wajar—32 kali. Perkara serupa dapat timbul karena mulut tidak diberi kesempatan untuk melawan bakteri makanan.

Pilih yang lebih sehat

Daripada mengonsumsi soft drink atau minuman ringan, air putih terbukti menjadi minuman paling baik. Dilansir situs web American Dental Association, air putih berkhasiat menjaga mulut tetap bersih.

Air putih menyapu sisa makanan dan residu bakteri penyebab gigi berlubang. Minuman ini juga mencairkan zat asam yang dihasilkan oleh kuman dalam mulut.

Terlebih lagi, air putih mengandung nol kalori. Ia tidak membawa zat gula yang dapat menempel dan menimbulkan risiko gigi berlubang.

Untuk asupan protein, memilih lean meat atau daging tanpa lemak juga lebih disarankan. Dada ayam tanpa kulit, ikan, serta daging sapi bagian eye round—tanpa lemak—ada di antara jenis ini.

Protein rendah lemak tersebut dinilai membuat gigi lebih kuat. Hal ini juga berlaku pada biji-bijian dan kacang-kacangan.

Kebersihan gigi

Ketika pola makan sudah dijaga, menjaga kebersihan gigi selayaknya terus dilakukan. Adapun sikat gigi sebaiknya dilakukan dua kali sehari.

"Waktu yang disarankan untuk menyikat gigi adalah pagi hari setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Kebanyakan orang Indonesia menyikat gigi saat mandi," ujar drg. Mirah pada kesempatan berbeda yang dilansir Kompas.com, Rabu (10/12/2016).
Ilustrasi.

Gigi pun sebaiknya disikat dengan lembut agar sisa makanan benar-benar terangkat. Cara ini juga dapat menjaga lapisan email gigi.

Menyikat dengan keras akan mengikis lapisan tersebut. Prosesnya kemudian ditutup dengan satu kali kumur-kumur agar kandungan flouride dari pasta gigi tidak terbuang.

"Cara menyikat gigi yang salah juga bisa membuat bakteri dalam mulut tidak bisa dibersihkan dengan maksimal," ujar Mirah.

Salah menggosok gigi memicu terbukanya bagian dentin—lapisan di bawah email—atau gigi menjadi sensitif. Akan tetapi, bila cara sikat gigi di atas sudah jadi kebiasaan, ada baiknya segera memeriksakan kondisi gigi.

Cara lain yang dapat Anda lakukan adalah memilih pasta gigi yang tepat. Pepsodent Sensitive Expert, misalnya, memiliki tiga manfaat yang melindungi gigi.

Kandungan HAP Mineral dan Sodium mampu masuk ke saluran dentin yang terbuka dan menutup lubang gigi sebelum menjadi parah. Lalu, Zinc Citrate di dalamnya ampuh menghambat metabolisme bakteri sehingga gigi tetap resik. Adapun free sample pasta gigi tersebut bisa Anda dapatkan di sini.

Jika pola makan sehat sudah diterapkan dan kebersihan gigi dijaga, peluang untuk punya gigi keropos pun semakin kecil. Ingat, untuk kesehatan, lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan? 
Portal Berita Terkini
Harapan Palsu - Rusdi penderita hernia harus merasakan sakit berkepanjangan. Pasien pengguna jasa Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, yang kini dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin, mengaku kecewa terhadap layanan badan itu. 

Rusdi adalah warga Aceh Tengah. Hanya untuk melengkapi sejumlah persyaratan administrasi, Rusdi harus bulak-balik Banda Aceh-Takegon. Sudah lebih seminggu Rusdi berada di Banda Aceh. Dari Takengon, Rusdi dirujuk untuk berobat ke Rumah Sakit Teuku Fakinah. Di rumah sakit ini, dia menjalani operasi pertama. 

Pelayanan BPJS Banda Aceh Sangat Buruk


Belum tuntas urusan di Fakinah, pihaknya dipaksa pindah ke Rumah Sakit Zainoel Abidin. Aturan dari BPJS menyebutkan masa perawatan Rusdi di Fakinah hanya berlaku selama tujuh hari. Di luar waktu yang ditetapkan itu, dia akan dikenai biaya tambahan. Padahal Rusdi masih membutuhkan operasi kedua. “Saya lantas dirujuk ke sini,” kata Rusdi di Zainoel Abidin,

Namun di Zainoel Abidin, Rusdi tak mendapatkan pelayanan yang seharusnya dia terima. Hingga saat ini, dia masih tergeletak di ruang gawat darurat. Dia harus mengantre lama untuk mendapatkan kamar. Demikian juga jadwal operasi kedua. 

Kesulitan sama juga dirasakan oleh Muhammad Aliza. Saat mengurus BPJS milik pamannya, Ichsan Harun, pihak BPJS bersikukuh pasien harus segera melangkapi berkas. Jika tidak dilakukan, BPJS tidak akan mengeluarkan asuransi. Padahal saat itu, Ichsan harus segera dirawat. 


Menurut Aliza, ada hal yang aneh ia dapatkan pada saat mengurus tersebut, ia harus menyertakan rekening listrik, jika tidak ada maka harus ada surat domisili yang menurutnya tidak ada kaitan dengan BPJS. Tak sempat mendapatkan perawatan, Ichsan meninggal dunia. Namun ini tak lantas memudahkan urusan Aliza. Jenazah pamannya tidak bisa dibawa keluar dari rumah sakit jika tidak membayar sejumlah uang jaminan ke rumah sakit. “Bahkan orang mati pun dibuat rumit di negara ini,” kata Aliza.
Portal Berita Terkini
Harapanpalsu.com | BN–  Herman (sebelumnya tertulis nama Mukhtar), pengantar pasien laka lantas yang menerima pengusiran dan perkataan kotor ”anj**g” oleh salah seorang petugas di ruang UGD Rumah Sakit Meuraxa, Banda Aceh, pada Kamis 10 November 2016 lalu, mengaku sedih menerima perlakuan tidak menyenangkan dari rumah sakit tersebut.

”Saya sangat sedih, bang, karena diusir dengan cara yang sangat buruk. Mereka berani usir kami dengan kata-kata anj**g,” ungkapnya kepada Bongkarnews.com, di Lampineung, Selasa 15 November 2016.

Korban pengusiran tersebut awalnya meminta pihak petugas untuk memberikan pertolongan pertama kepada korban yang diduga kakinya patah karena kecelakaan di jalan raya, namun dirinya tidak menyangka disikapi dengan buruk oleh petugas di ruang UGD dengan menyuruhnya agar membawa pasien tersebut ke rumah sakit lain.

”Saat saya minta mereka berikan pertolongan pertama kepada korban yang kecelakaan ini, malah disuruh bawa ke rumah sakit yang lain,” ujar dia.

Dia menuturkan, alasan para dokter tidak menerima pasien laka lantas tersebut karena ruangan penuh dan tidak ada lagi tempat bagi pasien yang diantarnya.

”Ada dokter jaga bernama dr. Mulia, disitu alasan dia karena ruang penuh tidak ada tempat, makanya mereka tidak mau terima pasien ini,” jelasnya.

Pada saat pengusiran sempat terjadi aksi saling dorong oleh security dan dokter muda dengan laki-laki pengantar pasien korban laka lantas. Karena para dokter dan security tidak ingin menerima pasien tersebut, sedangkan dia merasa kasihan kepada korban yang menurutnya mesti diberikan pertolongan segera.

”Saat itu kami diusir dengan kasar dan disebut kami anj**g,” kata dia lagi.

Dan yang lebih parahnya lagi, jelas dia, para petugas dan dokter yang berada di UGD tersebut sempat menyinggung gaji yang tak kunjung dibayar sudah beberapa bulan yang lalu.

”Mereka sempat singgung masalah.gaji yang tidak dibayar, itu kan bukan urusan kita. Seharusnya mereka protes kepada pemilik rumah sakit, bukan ke kita. Yang harus mereka lakukan adalah memberikan pertolongan kepada korban,” pungkasnya.

Sementara Direktur RSUD Meuraxa, dr Syahrul mengaku informasi tersebut tidak betul dan dia mengaku telah memanggil dokter dan satpam yang bertugas pada malam kejadian.

“Saya sudah memanggil dokter jaga, perawat dan satpam yang jaga malam itu. Saat itu, pasien di UGD sangat ramai dan sebagian ada yang harus duduk di kursi, sambil menunggu sebagian pasien untuk dibawa ke ruang rawat inap, jika pasiennya sudah stabil,” jelas mantan Direktur RSUZA Banda Aceh berdasarkan pengakuan bawahannya.

Tambah Syahrul, saat pengantar pasien tersebut membawa pasien dan melihat semua tempat tidur penuh dan tiba-tiba pengantar pasien mempertanyakan kenapa tempat tidur penuh dan kenapa tak diusulkan tambahan. Selanjutnya kata Syahrul, penjelasan petugas jaga tidak dapat diterima dan pengantar pasien mengancam akan melaporkan persoalan tersebut ke wartawan.

“Dokter jaga, perawat, satpam tidak pernah mengusir, dan tidak mengucapkan kata-kata kotor,” bantah Syahrul seperti tak tahu latar belakang persoalan.

Namun demikian, dr Syahrul berjanji akan terus memperbaiki pelayanan rumah sakit milik Pemko Banda Aceh yang selama ini sering dikeluhkan oleh pasien.

“Seluruh pimpinan dan staf RS Meuraxa terus memperbaiki kualitas pelayanan, keselamatan pasien dan kepastian layanan,” demikian janjinya.

Meski dr Syahrul membantah, dari rekaman video yang diperoleh Bongkarnews.com terlihat jelas pengantar pasien laka lantas, Herman didorong oleh petugas keamanan dan dokter untuk keluar dari ruangan alias diusir. Dan sang dokter berjenis kelamin perempuan terlihat menantang sambil merepet dan menyebut nama hewan.

“Silahkan,” tantang dokter itu sambil mengatakan, “ngomong baik-baik masih kayak anj**g”. Demikian mulut sang dokter yang memakai baju dr Mulya sambil berlalu menjauhi pengantar pasien, Herman.

Anehnya, bantahan dokter Syahrul terhadap pemberitaan Bongkarnews.com hanya berdasarkan pengakuan bawahannya tanpa pernah menonton rekaman video. Sang dokter senior ini terdiam dan berhenti membantah saat sebuah media online lokal menyebut mereka memiliki rekaman video.

“Sudahlah jangan diperpanjang lagi, malu kami,” pintanya seperti dilansir Atjehpres.com.[TM]